Yahudi menamakan diri israel

Standar

Tidak  diragukan bahkan seolah telah menjadi kesepakatan dunia termasuk kaum muslimin bahwa negeri yahudi terlaknat yang menjajah Palestina bernama Israel. Bahkan mereka yang mengaku sangat membenci yahudi -sampai melakukan boikot produk-produk yang diduga menyumbangkan dana bagi yahudi- turut menamakan yahudi dengan israel. Akan tetapi sangat disayangkan tidak ada seorang pun yang mengingatkan bahaya besar penamaan ini.

Perlu diketahui dan dicamkan dalam benak hati setiap muslim bahwa ISRAIL adalah nama lain dari seorang Nabi yang mulia, keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yaitu Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Allah ta’ala berfirman:

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ

“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan.” (QS. Ali Imran: 93)

Israil yang pada ayat di atas adalah nama lain dari Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Dan nama ini diakui sendiri oleh orang-orang yahudi, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu“Sekelompok orang yahudi mendatangi Nabi untuk menanyakan empat hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi. Pada salah satu jawabannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Apakah kalian mengakui bahwa Israil adalah Ya’qub?” Mereka menjawab: “Ya, betul.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, saksikanlah.” (HR. Daud At-Thayalisy 2846)

Kata “Israil” merupakan susunan dua kata israa dan iil yang dalam bahasa arab artinya shafwatullah (kekasih Allah). Ada juga yang mengatakan israa dalam bahasa arab artinya ‘abdun (hamba), sedangkan iil artinya Allah, sehingga Israil dalam bahasa arab artinya ‘Abdullah (hamba Allah). (lihat Tafsir At Thabari dan Al Kasyaf ketika menjelaskan tafsir surat Al Baqarah ayat 40)

Telah diketahui bersama bahwa Nabi Ya’qub adalah seorang nabi yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah ta’ala. Allah banyak memujinya di berbagai ayat al Qur’an. Jika kita mengetahui hal ini, maka dengan alasan apa nama Israil yang mulia disematkan kepada orang-orang yahudi terlaknat. Terlebih lagi ketika umat islam menggunakan nama ini dalam konteks kalimat yang negatif, diucapkan dengan disertai perasaan kebencian yang memuncak; Biadab Israil… Israil bangsat… Keparat Israil… Atau dimuat di majalah-majalah dan media massa yang dinisbahkan pada islam, bahkan dijadikan sebagai Head Line News; Israil membantai kaum muslimin… Agresi militer Israil ke Palestina… Israil penjajah dunia…. Dan seterusnya… namun sekali lagi, yang sangat fatal adalah ketika hal ini diucapkan tidak ada pengingkaran atau bahkan tidak merasa bersalah.

Satu hal yang perlu disadari oleh setiap muslim, penamaan negeri yahudi dengan Israil termasuk salah satu di antara sekian banyak konspirasi (makar) yahudi terhadap dunia. Mereka tutupi kehinaan nama asli mereka YAHUDI dengan nama Bapak mereka yang mulia Nabi Israil ‘alaihis salam. Karena bisa jadi mereka sadar bahwa nama YAHUDI telah disepakati jeleknya oleh seluruh dunia, mengingat Allah telah mencela nama ini dalam banyak ayat di Al-Qur’an.

Kita tidak mengingkari bahwa orang-orang yahudi merupakan keturunan Nabi Israil ‘alaihis salam, akan tetapi ini bukan berarti diperbolehkan menamakan yahudi dengan nama yang mulia ini. Bahkan yang berhak menyandang nama dan warisan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan para nabi yang lainnya adalah kaum muslimin dan bukan yahudi yang kafir. Allah ta’ala berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Mungkin perlu kita renungkan, pernahkah orang yang mengucapkan kalimat-kalimat isroil telah menghina Nabi Ya’qub ‘alaihis salam? pernahkah orang-orang yang menulis kalimat ini di majalah-majalah yang berlabel islam dan mengajak kaum muslimin untuk mengobarkan jihad, merasa bahwa dirinya telah membuat tuduhan dusta kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis salam? mengapa mereka tidak membayangkan bahwasanya bisa jadi ungkapan-ungkapan salah kaprah ini akan mendatangkan murka Allah – wal ‘iyaadzu billaah – karena isinya adalah pelecehan dan tuduhan bohong kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Mengapa tidak disadari bahwa Nabi Ya’qub ‘alaihis salam tidak ikut serta dalam perbuatan orang-orang yahudi dan bahkan beliau berlepas diri dari perbuatan mereka yang keparat.

Lalu dengan apa kita menamai mereka?! Kita menamai mereka sebagaimana nama yang Allah berikan dalam Al-Qur’an, YAHUDI dan bukan ISRAEL. Dan sebagaimana disampaikan di atas, hendaknya setiap muslim membiasakan diri dalam menamakan sesuatu sesuai dengan yang Allah berikan. Hendaknya kita namakan orang-orang yang mengaku pengikut Nabi Isa ‘alahis salam dengan NASRANI bukan KRISTIANI, kita namakan hari MINGGU dengan AHAD bukan MINGGU, kita namakan shalat dengan SHALAT bukan SEMBAHYANG dan seterusnya selama itu bisa dipahami oleh orang yang diajak bicara, sebagai bentuk penghormatan kita terhadap syi’ar-syi’ar agama islam. Wallaahu waliyyut taufiiq…

***

Dari artikel ‘Yahudi Bukan Israel — Muslim.Or.Id

Iklan

Sedekahnya Para Nabi, Sedekah Luar Biasa

Standar

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling dermawan. tak pernah sekalipun beliau menolak apabila di mintai pertolongan baik harta maupun tenaga. Jabir bin ‘Abdillah bersaksi,” Tak pernah sekalipun Rasulullah di minta sesuatu kemudian beliau berkata “tidak” (H.R Muslim)

Di kisahkan suatu hari Nabi Muhammad SAW kehabisan harta dan sembako sampai menjaminkan dirinya untuk sebuah hutang orang badui yang sering meminta-minta pada rasulullah.

Lalu Umar r.a berkata pada Rasulullah,” Ya Rasulullah, janganlah memberi di batas kemampuanmu”.

Pada waktu itu Rasulullah terlihat sedang masghul (sibuk) untuk mendengarkan perkataan yang di ucapkan oleh Umar r.a, Tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar berkata,” Ya Rasulullah, jangan takut  teruslah bersedekah, jangan khawatir dengan kemiskinan.” 

Mendengar ucapan laki-laki tadi Rasulullah tersenyum lalu beliau berkata, “Ucapan itulah yang di perintahkan oleh Allah kepadaku,“( H.R Turmudzi).

Di Zaman Nabi Sulaiman a.s, sepasang merpati mengadu padanya bahwa telurnya selalu di ganggu seorang manusia. Karena Nabi sulaiman memiliki mukjizat berbicara dengan binatang di samping itu juga memiliki bala tentara dari kalangan jin, hewan dan mempunyai kendaraan berupa angin. Maka Nabi sulaiman menyuruh jin menjaga keselamatan telur merpati itu.

Namun suatu hari, merpati datang dan mengadukan pada Nabi Sulaiman, karena jin telah gagal melaksanakannya. Ketika itu Nabi sulaiman memanggil jin dan bertanya tentang tugas yang di berikan padanya, namun jin meminta ma’af karena gagal mengusir ” Ma’af, kami gagal mengusir orang yang mengganggu telur merpati karena ia di kawal oleh dua malaikat.”

Malaikat kemudian memberitahu pada Nabi Sulaiman bahwa pria itu, sebelum pergi ke sarang burung merpati telah bersedekah dengan sekeping roti kering kepada seorang pengemis.

Nabi Isa juga mengajarkan umatnya untuk bersedekah, banyak yang sudah merasakan manfaatnya. Malaikat Jibril a.s mengabarkan kepada Nabi Isa a.s tentang jadwal kematian tukang cuci yang segera tiba. Ketika Nabiyullah pergi ke tempat tukang cuci tadi untuk bertakziah, terkejutlah beliau. ternyata tukan cuci tersebut masih hidup. Dia sedang mencuci seperti biasanya

Jibril turun memberitahukan kepada Nabi isya a.s” Lantaran dia telah bersedekah dengan 3 (tiga) potong roti, maka ALLAH SWT menghindarkannya dari wasilah kematiannya. Sebenarnya, di dalam tumpukan pakaian yang di bawa ada seekor ular hitam atau black mamba yang akan mematuknya hingga tewas.”

Sebagai orang yang beriman dan percaya pada Allah, kita yakin sedekah tidak dapat menjadikan seseorang jatuh dalam miskin. sebaliknya Allah akan menggantikan berlipat-lipat, tidak di ragukan lagi di dunia sudah nyata, apalagi di akhirat nanti, semoga Allah menggolongkan kita orang-orang yang suka berderma.

Apa yang Kita dengarkan di Pertanggungjawabkan

Standar

Dalam menjalani Kehidupan tentunya sebagai manusia saling berhubungan, tidaklah salah manusia itu saling berkomunikasi, bertukar pengalaman, namun ketika seseorang sudah melampaui batas seperti membicarakan kejelekan-kejelekan orang lain, ataupun kekurangan-kekurangan orang lain, merupakan  kesempatan besar  bagi setan dalam mencari teman untuk di hari nanti. bukankah kalian tahu orang yang membicarakan selain Kebesaran Allah, KenikmatanNya,  lama kelamaan dalam perbincangan tersebut sedikit banyaknya akan terjerumus dalam ghibah, menggunjing, mereka berdalih sebagai pengetahuan saja, sebagai cerita yang harus di ambil pelajarannya, dan masih banyak alasan dalam melakukannya. Sekiranya Rasulullah masih ada di samping kita, mungkin beliau bertanya “daging bangkai siapa yang sudah engkau makan?,,,  karena Rasulullah pernah bersabda bahwa orang yang ghibah(ngrasani: B.Jawa) di ibaratkan orang yang sedang memakan daging bangkai (mayit) orang yang di omongkan. Sudikah kalian untuk itu. .? Tidaklah heran ketika seseorang yang sedang membicarakan orang lain sangat enak, nyaman, asyik, , , karena mereka sedang makan daging bangkai. Belum lagi adzab yang akan di terima baik di dunia yaitu rizki di sempitkan, urusan tak kunjung selesai belum lagi di akhirat kelak.

Pada suatu hari Ibnu Abu Zakariya, jika sahabat-sahabatnya berbicara, atau berbincang-bincang panjang lebar tentang sesuatu selain mengingat Allah. dia bersikap seperti domba yang tidak peduli. Namun apabila berbicara tentang mengingat Allah, dia yang sangat sungguh-sungguh mendengarnya. Rasulullah bersabda : “Kedua telinga itu juga bisa berzina yaitu dengan menguping (mendengarkan rahasia Orang lain)”. Oleh sebab itu beliau memberi petunjuk kepada umatnya untuk selalu berlindung dari kejahatan pendengaran. Beliau memerintahkan membaca : “YA ALLAH aku berlindung dari kejahatan diri ini.” Jangan anggap remeh perasaan atau suara hati, walau sedikit.

Pendengaran adalah jalan menuju hati. Allah menguji orang -orang yang beriman dengan firmanNya “Apabila mendengarkan perkataan yang tidak bermanfaat (sia-sia), mereka berkata; Bagi kami amal kami, bagi kalian amal kalian.’ Kesejahteraan atas diri kalian. Kami tidak mau bergaul dengan orang-orang yang jahil”.(Q.S. Al-Qashas). Orang yang benar-benar Allahlah sebagai tujuan hidupnya tidak akan mendengarkan setiap ucapan yang sia-sia, dan tidak membiarkan pendengarannya mendengarkan segala sesuatu yang di larang oleh Allah. Karena pendengaran akan di pertanggung jawabkan, dan di tanya oleh Allah SWT. di akhirat kelak. Allah berfirman; ” Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati akan di minta pertanggungjawaban.” (Al-Isro ; 36)

Alasan Lembaga Internasional Bungkam Atas kejahatan Israel

Standar

kejahatan-israel

Aksi-aksi perusakan rezim Zionis di daerah-daerah Palestina semakin mencemaskan masyarakat internasional. Sedemikian tingginya kekhawatiran ini memaksa lembaga-lembaga internasional Barat, seperti Amnesti Internasional dan Pemantau Hak Asasi Manusia mereaksi kebiadaban rezim Zionis Israel. Padahal selama ini mereka lebih memilih bungkam di hadapan kejahatan Israel.

Sekaitan dengan hal ini, 20 lembaga internasional, seraya menyinggung kejahatan-kejahatan zionis dalam merusak rumah-rumah warga Palestina, meminta Komite Segi Empat mengintervensi masalah ini demi melindungi warga Palestina. Amnesti Internasional dan Pemantau HAM Selasa kemarin (13/12) dalam sebuah pernyataan menyampaikan kekhawatirannya atas perusakan rumah-rumah Palestina dan eskalasi aktivitas pembangunan permukiman zionis serta aksi kekerasan zionis pada tahun 2011.

Lembaga-lembaga internasional meminta Komite Segi Empat yang beranggotakan PBB, Amerika, Uni Eropa dan Rusia agar melaksanakan tugasnya sesuai aturan internasional menghentikan aksi-aksi Zionis Israel. Dalam pernyataan itu disebutkan, sejak awal tahun ini, rezim Zionis Israel telah menghancurkan lebih dari 500 rumah tinggal, sumur dan sumber-sumber air warga Palestina di Tepi Barat Sungai Jordan. Aksi ini telah menyebabkan lebih dari seribu warga Palestina menjadi pengungsi.

Menurut lembaga-lembaga internasional, jumlah warga Palestina yang tahun ini menjadi pengungsi meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2010. Militer rezim Zionis Israel merusak rumah-rumah penduduk Palestina dalam paket program Yahudisasi daerah-daerah Palestina agar mereka meninggalkan daerah tempat tinggalnya.

Eskalasi aksi perusakan Israel di kawasan Palestina menunjukkan keberadaan Zionis Israel tidak pernah membuat dunia merasakan ketenangan. Untuk itu 20 lembaga-lembaga internasional HAM meminta Komite Segi Empat mereaksi masalah ini dan mencegah aksi Zionis Israel. Permintaan ini disampaikan saat semua tahu betapa Komite Segi Empat Perdamaian Timur Tengah ini kinerjanya tidak berbeda dengan lembaga-lembaga internasional lainnya. Komite ini lebih memilih bungkam menyaksikan kejahatan Israel di Palestina. Komite Segi Empat tidak hanya diam, tapi tanpa menyoroti aksi-aksi destruktif Israel, justru aktif menekankan proses perdamaian Israel-Palestina. Hal ini malah membuat Israel kian arogan dalam melakukan aksi penghancuran rumah-rumah penduduk Palestina.

Mencermati susunan keanggotaan Komite Segi Empat Timur Tengah dapat dipahami kebijakan yang ada tunduk pada pengaruh negara-negara Barat anggota komite ini. Bila negara-negara Barat selama ini adalah pelindung dan pendukung utama rezim Zionis Israel, maka dengan mudah dapat dipahami kebijakan Komite Segi Empat. Belum lagi komite ini tidak setuju ide pembentukan negara Palestina merdeka yang diusulkan Otorita Ramallah di PBB.

Kenyataan ini menunjukkan Komite Segi Empat Timur Tengah ini hanya alat kekuatan-kekuatan hegemoni untuk memperkuat posisi rezim Zionis Israel di Timur Tengah. Tak syak, tidak adanya keseriusan lembaga-lembaga internasional menyikapi kejahatan Zionis Israel akan membuat dunia masih menyaksikan berlanjutnya tragedi kemanusiaan yang harus ditanggung oleh bangsa Palestina.

 

di ambil dari ; http://www.konspirasi.com

Ketika Semuanya pergi

Standar

Segala sesuatu yang ada dibumi ini pasti akan hilang kapan pun itu, hanya Allah yang tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Semua yang pernah dimiliki, yang diciptakan pasti akan kembali ke Penciptanya lagi. Suatu saat pasti akan diambil kembali oleh Allah SWT. Kita sebagai manusia hanya bisa menanti kapan semua yang dititipkan dan diberikan pada kita itu diambil.

Seorang hamba baru selesai bermunajat pada Allah SWT, Seorang temannya menghampiri. Teman yang sudah lama tidak bertemu. Temannya berkeluh kesah kepadanya tentang apa yang menimpanya belakangan ini. Usahanya yang jatuh, rumah tangganya yang guncang, dan hal-hal lain yang membuatnya hanya bisa menghela nafas. Ia berkata,” Beratus kali do’a telah ku panjatkan, tapi rasanya Allah enggan mengabulkan.” Sering terdengar dari lisannya hal-hal yang ia sesali, ” Coba kalau dahulu aku tudak melakukan hal itu pasti nasibku tidak akan seperti ini.”

Hamba itu tersenyum. Ia ingat sebuah ayat dari Kalamullah ,

” Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi [1]; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang [2]. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

[1]. Maksudnya: tidak dengan penuh keyakinan. [2]. Maksudnya: kembali kafir lagi.

Dalam sebuah nasihat kepada para sahabatnya, Rasulullah Saw. Bersabda,” Orang beriman yang kuat lebih baik dan lebih di sukai Allah daripada orang beriman yang lemah, Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu, janganlah mengucapkan , ” Seandainya aku berbuat begini tentu akan terjadi begini dan begitu”. Tapi katakanlah,” Apa yang di tentukan Allah dan Apa yang di kehendaki-Nya pasti akan terjadi.” Sebab, kata “seandainya”  itu akan memberi jalan pada setan untuk menguasai.” (HR. Bukhari)

Temannya itu bertanya ,” Apakah dahi yang menghitam karena beribadah pada Allah dapat menyelesaikan permasalahan hidup?” Sambil tertawa temannya itu menunnjuk dahi yang hitam. Ia hanya tersenyum. Ia sadar, segala ujian hidup yang datang bisa jadi tidak akan pernah selesai seperti apa yang di inginkan dan di harapkan. Tapi Allah Maha menyelesaikan dan Maha Barkehendak. Tidak pernah ia berburuk sangka terhadap apa yang telah Allah tetapkan kepadaNya. Allah pasti memilih yang terbaik, dan paling baik untuk hamba-hamba-Nya. Itulah penyelesaian dari segala permasalahan hidup.

Bagaimanapun nantinya, semua yang pernah menjadi milik Kita  sekarang didunia, pasti akan kembali hilang dan diambil kembali oleh pemiliknya yaitu Allah SWT. Tidak ada yang abadi didunia ini. Semua berdasarkan kehendak dari Allah, apapun yang Allah kehendaki pasti terjadi begitu saja tanpa ada persiapan apapun dari kita. Hanyalah Allah yang kekal dan abadi. Tiada lain yang bisa kekal dan abadi selain Allah SWT. Bumi ini, tempat kita hidup selama ini pun, suatu saat nanti pasti akan binasa dan hilang begitu saja.

Rasulullah Saw, bersabda,” Tidak ada sesuatupun yang lebih di cintai Allah dari pada dua” tetes” dan dua “bekas”, yaitu ‘ tetesan air mata kerinduan kapada Allah’ dan ‘tetesan darah yang mengalir karena berjuang di jalan Allah,. Adapun dua bekas yaitu ‘bekas luka ketika berjuang pada jalan Allah, dan ‘ bekas yang di sebabkan oleh ibadah kepada Allah Swt.” (HR. At-tirmidzi)

Do’a Anak Kecil

Standar

Suatu ketika Umar Bin Khattab  e.a. bertemu dengan anak kecil di sebuah jalan di tengah kota Madinah. Beliau menghampiri anak itu dan berkata dengan penuh kasih sayang, ” Nak, berdoalah pada Allah yang Maha Pengasih agar merahmati kita semua.”

Para sahabat heran dan berkata, ” Wahai amirul mu’minin, Bagaimana Anda meminta kepada seorang anak kecil  untuk berdoa pada Allah. Padahal Anda, adalah salah satu dari Sepuluh sahabat yang di jamin masuk syurga?.”

Umar menjawab .” Aku memintanya berdoa justru karena dia masih kecil, karena catatan Allah belum berlaku atasnya. Belum ada suatu dosapun yang pernah di lakukannya dan karena itu do’anya di kabulkan. Sedangkan kita telah menjadi dewasa, kita dalam kegelimangan dosa dan kesalahan. Catatan Allah telah berlaku atas kita.”

Sayyidina Ali bercerita:
Suatu hari Nabi kedatangan tamu.
“Wahai Rasul, saya telah bermaksiat kepada Allah. Sucikanlah saya.”
“Apa maksiatmu itu?” Tanya Nabi.
“Saya malu mengatakannya.”
“Kamu malu menceritakan dosamu kepadaku, tetapi tidak malu kepada Allah yang selalu melihatmu. Berdiri dan menyingkirlah dari sisiku sebelum api turun menimpa kami.”
Ia pergi dengan merana, putus asa dan menangis.

Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad. “Mengapa engkau putus asakan pelaku maksiat yang memiliki pelebur dosa sekalipun banyak dosanya?”
“Apa pelebur dosanya?” Tanya Nabi.
“Ia punya anak kecil. Setiap ia pulang anak kecil itu menyambutnya. Lantas laki-laki itu memberikan makanan atau sesuatu yang membuat gembira anak kecil tersebut. Apabila anak kecil itu bergembira maka itulah penebus dosanya.”
Nyatalah bahwa kegembiraan anak-anak adalah pelebur dosa dan menyelamatkan dari neraka. Sebagaimana firman Allah:
“Harta dan anak-anak kalian sesungguhnya adalah cobaan. Allah mempunyai pahala yang besar.” (Al Qur’an).

Rasulullah bersabda, ” Bagaimana pendapatmu wahai sahabatku, kalau sebuah sungai berada di depan pintu rumah salah satu dari kalian, dan ia mandi setiap hari lima kali. Apakah masih tertinggal kotoran di tubuhnya?’ Jawab para sahabat,” Tidak ya Rasulullah.” Rasulullah melanjutkan, ” Demikianlah shalat lima waktu. Allah menghapus dosa-dosa kalian dengan mengerjakannya.” (HR. Buhgari dan Muslim).

Kesucian diri dari dosa adalah salah satu kunci Allah mengabulkan doa-doa kita. Adalah lebih baik bagi seorang muslim membersihkan dirinya dari segala dosa sebelum memohon dan bermunajat kepada Allah.

Obatnya adalah Istighfar , ,

Standar

Suatu hari, Rasulullah Saw, duduk bersama beberapa sahabatnya. Lalu datanglah seorang laki-laki. Dia bertanya dan mengeluhkan kemiskinannya kepada Rasulullah , Lalu Rasulullah bersabda, ” Engkau harus beristighfar. ”

Kemudian datang seorang laki-laki lainnya bertanya dan mengeluhkan sedikitnya anak. Maka Rasulullah bersabda, ” Engkau harus beristighfar. ”

Lantas seorang sahabat, Abu Hurairah r.a. bertanya, ” Ya Rasulullah, penyakitnya bermacam-macam , tapi kenapa obatnya hanya satu?” Rasulullah bersabda, ” Aku akan bacakan kepada kalian apa yang telah di sampaikan oleh Nabi Nuh kepada umatnya.”

Maka aku katakan: mohon ampunlah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat dari langit untukmu. Dia akan memberimu banyak harta dan anak-anak dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan (mengadakan pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai yang mengalir (di dalamnya ). Mengapa kamu tidak meletakkan harapan kepada Allah.” ( QS. Nuh ayat 10-13 ).”

Rasulullah kemudian bersabda,” Barang siapa senantiasa membaca istighfar, maka Allah menjadikan baginya jalan keluar atas setiap kesulitan yang ia derita dan Allah memberi kelapangan atas setiap kesempitannya serta Allah memberi kepadanya rizki dari arah yang tidak di sangka-sangka.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud)

Dan di ceritakan dari sejarah ulama besar mengenai istighfar

Hasan al-Basri adalah ulama besar. Beliau tabiin (generasi sesudah sahabat) yang luas ilmunya. Bahkan Wasil bin Atha’, tokoh Mu’tazilah, mengaku dirinya murid Hasan. Suatu hari seseorang datang kepada beliau, mengeluhkan musim paceklik yang panjang dan penghasilannya menyusut. “Minta ampunlah (istighfar) kepada Allah agar masa paceklik itu segera berlalu,” kata Hasan memberi nasehat.

Datang lagi seseorang mengadukan keadaan dirinya kepada Hasan. “Guru, saya ingin punya keturunan. Doakanlah kepada Tuhan agar aku dikaruniai anak,” pintanya. Hasan menjawab: “Istighfarlah kepadaAllah agar kamu dikaruniai anak.”

Datang lagi orang ketiga pada Hasan. Orang ini mengeluh tentang tanamannya yang tidak kunjung berbuah. Hasan lalu berkata: “Mohon ampunlah kepada Allah agar tanamanmu cepat berbuah.” Para murid yang mendengar jawaban gurunya heran. Tiga pertanyaan berbeda dijawab dengan jawabanyang sama: Istighfar atau minta ampun. Tapi diperlukan keberanian bagi seorang murid menegur gurunya, apalagi guru sekelas Hasan al-Basri.

Salah seorang memberanikan diri. “Wahai guru kami. Ada tiga orang berbeda datang kepada guru dengan keluhan berbeda. Tetapi mengapa guru memberi jawaban yang sama atas tiga keluhan berbeda?” tanya murid itu. Hasan dengan senyum ramah mengatakan: “Jawabanku itu bukan atas kemauanku sendiri melainkan berdasarkan firman Allah.” Hasan lalu membacakan surat Nuh ayat 10-13 :

“Maka aku katakan: mohon ampunlah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat dari langit untukmu. Dia akan memberimu banyak harta dan anak-anak dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan (mengadakan pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai yang mengalir (di dalamnya ). Mengapa kamu tidak meletakkan harapan kepada Allah.” ( QS. Nuh ayat 10-13 ).”

Cara ulama besar Hasan al-Basri menjawab keluhan umatnya sungguh menarik. Ia memfokuskan pada satu kata kunci yaitu istighfar. Al-Qurtubi dan Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini merupakan bukti bahwa beristighfar dan bertaubat akan menambah rezeki dan keturunan serta hujan turun membasahi bumi yang gersang. Hamka dalam tafsir Al-Azhar memberi komentar tentang ayat ini bahwa ampunan Tuhan adalah cahaya hidup. Jika Tuhan memberi ampunan, segala pekerjaan menjadi mudah, dada pun lapang dan hidup terang benderang.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda sebagai berikut,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ فَإِنِّى أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

Wahai manusia seluruhnya bertaubat dan mohon ampunlah kepada Allah. karena sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari” (HR Ahmad no 18319. Syaikh Al Arnauth berkata tentang hadits ini: sanadnya shahih sesuai syarat Muslim).