Category Archives: Islam di remehkan , ,

ISLAM mulai di remehkan, ,

Standar

Islam terpojokan, budaya barat berhambur bebas, menyelubungi syaraf-syaraf otak kaum muslim, inilah perang besar, perang ideologi, doktrin, atau di sebut ghozwatul fikr, .

ajaran islam di hajar oleh filsafat-filsafat yang muncul menyesatkan, mereka menganggap Agama juga filsafat, bisa di akali, bisa di rubah.

Budaya dan filsafat telah meracuni pendidikan kita, budaya, tekhnologi yang mengotori generasi muda, membinasakan pikiran bangsa.

Abad ke-19 menyaksikan sebuah kekeliruan terbesar dalam sejarah umat manusia. Ini berawal dengan dikenalkannya filsafat materialis warisan Yunani kuno kepada pemikiran bangsa Eropa.

Kekeliruan ini adalah teori evolusi Darwin. Sebelum kemunculan Darwinisme, biologi diterima sebagai cabang ilmu pengetahuan yang membuktikan keberadaan Tuhan. Dalam bukunya Natural Theology, biologiwan terkenal William Paley menyatakan, ?Setiap jam menunjukkan keberadaan pembuat jam, rancangan di alam membuktikan keberadaan Tuhan.?
Tetapi, teori evolusi Darwin menolak kebenaran ini. Dengan memutarbalikkan kebenaran agar sesuai dengan filsafat materialis, ia menyatakan bahwa seluruh makhluk hidup muncul akibat peristiwa alamiah biasa, tanpa ada unsur kesengajaan. Dengan kata lain, secara kebetulan. Dengan cara ini, ia memunculkan pemisahan semu antara agama dan ilmu pengetahuan. Dalam buku The Messianic Legacy, para peneliti Inggris Michael Baigent, Richard Leigh dan Henry Lincoln berkata tentang hal ini.

Sebetulnya, teori evolusi telah ada jauh sebelum Darwin memperkenalkannya karena ini adalah kepercayaan kaum pagan di jaman pra moderen di Yunani. Mereka percaya bahwa kehidupan sebetulnya berasal dari air payau yang semula berupa hewan-hewan seperti kodok, tikus, dan binatang melata lainnya. Hewan-hewan ini kemudian berevolusi diantaranya menjadi manusia seperti sekarang.

Bagi Isaac Newton, satu setengah abad sebelum Darwin, ilmu pengetahuan tidaklah terpisah dari agama, bahkan sebaliknya, menjadi bagian dari agama, dan pada akhirnya mengabdi kepadanya. Akan tetapi ilmu pengetahuan masa Darwin menjadi persis sedemikian itu, yakni memisahkan dirinya sendiri dari kerangka tempat dulunya ia berada, dan mengukuhkan dirinya sendiri sebagai pesaing mutlak, sebagai pemberi penjelasan tandingan. Alhasil, agama dan ilmu pengetahuan tak lagi bekerja seiring, tapi berdiri saling berhadap-hadapan, dan umat manusia semakin dipaksa untuk memilih di antara keduanya. (Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln, The Messianic Legacy, Gorgi Books, London:1991, hlm.177-178)

Konsep teori evolusi pada peradaban moderen diperkenalkan oleh Jean-Baptiste Lamarck, (ahli biologi Perancis) pada tahun 1809, jauh sebelum Darwin. Menurut Lamarck mahluk hidup dapat berubah secara perlahan-lahan menjadi makhluk yang lebih kompleks akibat lingkungan yang memaksanya. Seekor jerapah dapat saja berasal dari binatang nenek moyangnya sebangsa kijang yang berleher pendek. Karena, hilangnya daun-daun pada pohon yang rendah, maka nenek moyang jerapah ini mencari makanan dedaunan yang terletak di dahan-dahan yang lebih tinggi dan lehernya bertambah panjang sehingga lahirlah spesies binatang baru seperti jerapah yang kita kenal sekarang. Teori Evolusi baru memiliki pengaruh yang besar ketika seorang ahli ilmu alam Inggris, Charles Darwin menerbitkan bukunya berjudul The Origin of Species pada 1859. Teorinya agak berbeda dengan teori Lamarck karena Darwin menekankan pada terjadinya proses seleksi alam (natural selection) sehingga terkenallah mottonya yang berbunyi survival of the fittest, hanya yang kuat yang bertahan hidup.

Tidak hanya biologi, cabang-cabang ilmu pengetahuan seperti psikologi dan sosiologi pun dipaksakan agar sesuai dengan filsafat materialis. Astronomi dibelokkan mengikuti dogma materialis Yunani kuno. Tujuan baru ilmu pengetahuan adalah untuk mengukuhkan kebenaran filsafat materialis. Gagasan keliru ini telah menyeret dunia ilmu pengetahuan kepada kebuntuan selama 150 terakhir.

Mengenal existensi Pencipta

Kebenaran yang dicapai dengan melalui ilmu pengetahuan maupun filsafat hanya kebenaran yang bersifat subyektif, kebenaran yang bersifat relative bukan kebenaran yang hakiki. Karena perangkat yang digunakan untuk mencapai kebenaran tersebut diatas memiliki keterbatasan dan kelemahan. Panca indera dan akal manusia memiliki keterbatasan untuk mencapai pada kebenaran yang hakiki. Dengan mengakui relativitas manusia sebagai bagian dari alam, akan membawa konsekuensi logis, sesuatu yang tidak relative, yang berada “di luar” alam. Jadi “Ada” sesuatu sebelum dan sesudah adanya alam. Ada sesuatu yang tak terjangkau panca indera dan akalnya, “sesuatu” itulah yang mengawali dan mengakhiri kehidupan ini. “Sesuatu” yang memiliki super power, yang menciptakan alam semesta beserta isinya, yang mengelola dan mengatur ciptaannya. Terhadap “sesuatu” itu, orang menyebutnya dengan “Tuhan”. Banyaknya suku, bangsa, aliran, kepercayaan dan agama menimbulkan banyaknya konsepsi akan ketuhanan dari masing-masing komonitas. Untuk melakukan pendekatan akan pengetahuan mengenai Tuhan yang hakiki, kita perlu mengenal karakteristik dari Tuhan yang bisa diakui secara obyektif, sebagai kebenaran universal. Dari uraian bab sebelumnya dan pembahasan mengenai kelemahan ilmu pengetahuan dan filsafat, kita telah ketahui pengetahuan akan kebenaran yang dihasilkannya adalah subyektif, sifatnya relative. Maka Tuhan dalam arti sebenarnya tentu tidak memiliki sifat relative, Tuhan yang tidak terjangkau, yang tidak dikenal dengan akal pikiran manusia. Dia memiliki sifat Mutlak. Mutlak dalam segala kehendak dan perbuatannya. Siapapun tak ada yang dapat mempengaruhi kehendaknya, mempengaruhi perbuatannya, mempengaruhi keputusan-keputusannya. Karakteristik demikian disebut Absolut (mutlak). Karena karakternya mutlak, maka Dia tentu berbeda dengan keberadaan makhluknya. Tak ada sesuatu yang dapat menyerupainya. Menyerupai dalam seluruh sifat, dzat, kehendak dan perbuatannya. Karakteristik demikian disebut Distinct yang artinya berbeda. Karena Tuhan berbeda dengan yang lain, maka Dia juga memiliki karakter yang lain yaitu khas atau unique, artinya tak ada sesuatu yang menyamainya. Demikianlah, Tuhan dalam arti yang sebenarnya memiliki karakter Absolut (mutlak), Distinc (berbeda dengan lainnya) dan Unique (tak ada yang menyamainya). Inilah karakteristik Tuhan yang sebenarnya. Untuk mengenal existensi Tuhan, yang patut kita imani perlu kita teliti dan cermati, dengan cara menganalisis agama atau kepercayaan Ketuhanan yang ada, apakah memenuhi karakteristik Tuhan sebagaimana di atas.