Category Archives: Hari Sex di Anggap Hari Valentin

Di Balik Hari Valentin , ,

Standar

Valentine’s Day yang jatuh pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih merayakan cintanya. Hal ini berlaku di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia. Setiap tanggal 14 Februari, rata-rata kaum muda dan tua ikut me-rayakan hari ini dengan meluangkan waktu berkualitas bersama pasang-an tercinta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, artinya, ” Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut ” (HR. At-Tirmidzi) .

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, ” Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut HARAM “.

Mengapa ? karena berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah subhanahu wata’ala. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah subhanahu wata’ala dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh.

Mari kita lihat sejarah valentine, siapa sebenarnya yang Anda rayakan sebagai hari valentin ?

Tradisi merayakan Valentine dapat ditelusuri lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Yunani dan Romawi Kuno. Di Yunani, hubungan antara pertengahan bulan Februari dengan cinta dan ke-suburan sudah ada sejak dahulu kala. Menurut kalender Yunani kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Fe-bruari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada per-nikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Sementara itu sejarah Romawi kuno menyebutkan bahwa 15 Fe-bruari adalah puncak perayaan hari raya Lupercalia (Feast of Lupercalia), sebuah perayaan untuk menghormati Lupercus, dewa kesuburan yang dilambangkan sebagai lelaki setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban domba kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jalan-jalan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut akan bisa men-datangkan kesuburan bagi mereka.

Sebuah versi yang berbeda juga menyatakan bahwa perayaan Lupercalia berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari) dipersembahkan untuk dewi bernama Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi ke-kasih pemuda yang memilihnya selama setahun penuh. Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, para lelaki muda (bukannya pendeta) melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para perempuann itu berebutan untuk bisa mendapat lecutan karena menganggap bahwa kian banyak mendapat lecutan maka mereka akan bertambah cantik dan subur.

Valentine’s Day untuk Menghormati Santo Valentinus
Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk meng-hormati Santo Valentinus yang kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari.
Tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti telah disinggung di muka, para sejarawan masih berbeda pendapat. Me-nurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda:

  1. seorang pastur di Roma
  2. seorang uskup Interamna (modern Terni)
  3. seorang martir di provinsi Romawi Africa

Tiga orang tersebut dianggap meninggal pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa Romawi.

Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini, namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Jenazah Santo Valentinus sendiri diidentifika-sikan sebagai sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus dekat Roma. Jenazah tersebut Kemudian di-taruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada Valentine’s Day. Pada hari itu sebuah misa khusus di-adakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. Meski begitu, hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Perkembangan Tradisi Valentine’s Day di Inggris
Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus de-ngan cinta romantis dituangkan pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa tanggal 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris Pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (“Percakapan Burung-Burung”) bahwa

For this was sent on Seynt Valentyne’s day
(“Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”)
Whan every foul cometh ther to choose his mate
(“Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangan-nya”)

Pada jaman itu, sudah lazim bagi para pencinta untuk bertukar catatan dan memanggil pasangan mereka dengan sebutan “my Valentine”. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi naskah British Library di London. Banyak legenda-legenda mengenai Santo Valentinus yang diciptakan pada jaman ini. Berikut ini sebagian dari legenda tersebut:

  1. Kaisar Claudius II yang memerintah Roma memenjarakan Santo Valentinus karena menyebarkan agama Katolik dan menolak menyembah dewa-dewi Romawi. Orang-orang yang bersimpati pada Santo Valentinus lalu menulis surat dukungan dan bunga dan menaruhnya di terali penjaranya
  2. Santo Valentinus di penjara berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan catuh cinta kepadanya. Sore hari sebelum Santo Valentinus akan dihukum mati sebagai martir (syuhada) karena membela agama Katolik, ia menulis sebuah pernyataan cinta yang diberikannya kepada putri sipir penjara itu. Di dalam pernyataan cinta tersebtu tertulis “Dari Valentinus-mu”.
  3. Serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, ka-rena tentara yang bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan perang dibanding mereka yang menikah. Santo Valentinus se-cara rahasia membantu menikahkan mereka, sampai ia ke-tahuan dan dijatuhi hukuman gantung. Eksekusi dilakukan pada tanggal 14 Februari 269 M. Baru pada tahun 496 Masehi, pendeta Gelasius menetapkan 14 Februari sebagai hari peng-hormatan bagi Valentinus.

Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan gugurnya Santo Valentinus sebagai martir.

Valentine’s Day di Era modern
Valentine’s Day kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di abad ke-19, Kerajaan Inggris masih menjajah wilayah Amerika Utara. Kebudayaan Kerajaan inggris ini kemudian diimpor oleh daerah koloninya di Amerika Utara. Di Amerika Serikat, kartu Valentine pertama yang di-produksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828-1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya me-miliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima.

Tradisi Hari Valentine di negara-negara non-Barat
Di Jepang, Valentine’s Day dirayakan berkat in-dustri yang lihai dalam melakukan pemasaran secara besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen coklat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor.

Para wanita memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (coklat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, diciptakanlah sebuah hari balasan yang disebut White Day. Pada hari ini (tanggal 14 Maret), pria yang sudah mendapat coklat pada Valentine’s Day diharapkan memberi sesuatu kembali ke si wanita.

Di Taiwan, sebagai tambahan dari Valentine’s Day dan White Day, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari ini jika ditilik dari fungsinya. Namanya adalah Qi Xi atau “Hari Raya Anak Perempuan”. Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut kalender Tionghoa. (niq)

Kesimpulan ;

Syaikh Muhammad al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan, ” Merayakan Hari Valentine itu tidak boleh ”, karena alasan berikut :

Pertama : Ia merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam.

Kedua : Ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) -semoga Allah meridhai mereka-.

Contoh kasus : ada seorang gadis mengatakan bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.

Saudaraku!! Ini adalah suatu kelalaian, mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah subhanahu wata’ala melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.

Di dalam ayat lainnya, artinya, ” Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22).

Jadi, kesimpulan dari hukum Perayaan Valentine adalah sebagai berikut :

Seorang muslim dilarang untuk meniru-niru kebiasan orang-orang di luar Islam, apalagi jika yang ditiru adalah sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan, pemikiran dan adat kebiasaan mereka.

Bahwa mengucapkan selamat terhadap acara kekufuran adalah lebih besar dosanya dari pada mengucapkan selamat kepada kemaksiatan seperti meminum minuman keras dan sebagainya.

Haram hukumnya umat Islam ikut merayakan Hari Raya orang-orang di luar Islam.

Valentine’s Day adalah Hari Raya di luar Islam untuk memperingati pendeta St. Valentin yang dihukum mati karena menentang Kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda. Oleh karena itu tidak boleh ummat Islam memperingati hari Valentine’s tersebut.

Sumber :

http://www.beritaterkini.net

Dari berbagai sumber, http://www.hanyawanita.com