Category Archives: TADABBUR

Sedekahnya Para Nabi, Sedekah Luar Biasa

Standar

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling dermawan. tak pernah sekalipun beliau menolak apabila di mintai pertolongan baik harta maupun tenaga. Jabir bin ‘Abdillah bersaksi,” Tak pernah sekalipun Rasulullah di minta sesuatu kemudian beliau berkata “tidak” (H.R Muslim)

Di kisahkan suatu hari Nabi Muhammad SAW kehabisan harta dan sembako sampai menjaminkan dirinya untuk sebuah hutang orang badui yang sering meminta-minta pada rasulullah.

Lalu Umar r.a berkata pada Rasulullah,” Ya Rasulullah, janganlah memberi di batas kemampuanmu”.

Pada waktu itu Rasulullah terlihat sedang masghul (sibuk) untuk mendengarkan perkataan yang di ucapkan oleh Umar r.a, Tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar berkata,” Ya Rasulullah, jangan takut  teruslah bersedekah, jangan khawatir dengan kemiskinan.” 

Mendengar ucapan laki-laki tadi Rasulullah tersenyum lalu beliau berkata, “Ucapan itulah yang di perintahkan oleh Allah kepadaku,“( H.R Turmudzi).

Di Zaman Nabi Sulaiman a.s, sepasang merpati mengadu padanya bahwa telurnya selalu di ganggu seorang manusia. Karena Nabi sulaiman memiliki mukjizat berbicara dengan binatang di samping itu juga memiliki bala tentara dari kalangan jin, hewan dan mempunyai kendaraan berupa angin. Maka Nabi sulaiman menyuruh jin menjaga keselamatan telur merpati itu.

Namun suatu hari, merpati datang dan mengadukan pada Nabi Sulaiman, karena jin telah gagal melaksanakannya. Ketika itu Nabi sulaiman memanggil jin dan bertanya tentang tugas yang di berikan padanya, namun jin meminta ma’af karena gagal mengusir ” Ma’af, kami gagal mengusir orang yang mengganggu telur merpati karena ia di kawal oleh dua malaikat.”

Malaikat kemudian memberitahu pada Nabi Sulaiman bahwa pria itu, sebelum pergi ke sarang burung merpati telah bersedekah dengan sekeping roti kering kepada seorang pengemis.

Nabi Isa juga mengajarkan umatnya untuk bersedekah, banyak yang sudah merasakan manfaatnya. Malaikat Jibril a.s mengabarkan kepada Nabi Isa a.s tentang jadwal kematian tukang cuci yang segera tiba. Ketika Nabiyullah pergi ke tempat tukang cuci tadi untuk bertakziah, terkejutlah beliau. ternyata tukan cuci tersebut masih hidup. Dia sedang mencuci seperti biasanya

Jibril turun memberitahukan kepada Nabi isya a.s” Lantaran dia telah bersedekah dengan 3 (tiga) potong roti, maka ALLAH SWT menghindarkannya dari wasilah kematiannya. Sebenarnya, di dalam tumpukan pakaian yang di bawa ada seekor ular hitam atau black mamba yang akan mematuknya hingga tewas.”

Sebagai orang yang beriman dan percaya pada Allah, kita yakin sedekah tidak dapat menjadikan seseorang jatuh dalam miskin. sebaliknya Allah akan menggantikan berlipat-lipat, tidak di ragukan lagi di dunia sudah nyata, apalagi di akhirat nanti, semoga Allah menggolongkan kita orang-orang yang suka berderma.

Ketika Semuanya pergi

Standar

Segala sesuatu yang ada dibumi ini pasti akan hilang kapan pun itu, hanya Allah yang tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Semua yang pernah dimiliki, yang diciptakan pasti akan kembali ke Penciptanya lagi. Suatu saat pasti akan diambil kembali oleh Allah SWT. Kita sebagai manusia hanya bisa menanti kapan semua yang dititipkan dan diberikan pada kita itu diambil.

Seorang hamba baru selesai bermunajat pada Allah SWT, Seorang temannya menghampiri. Teman yang sudah lama tidak bertemu. Temannya berkeluh kesah kepadanya tentang apa yang menimpanya belakangan ini. Usahanya yang jatuh, rumah tangganya yang guncang, dan hal-hal lain yang membuatnya hanya bisa menghela nafas. Ia berkata,” Beratus kali do’a telah ku panjatkan, tapi rasanya Allah enggan mengabulkan.” Sering terdengar dari lisannya hal-hal yang ia sesali, ” Coba kalau dahulu aku tudak melakukan hal itu pasti nasibku tidak akan seperti ini.”

Hamba itu tersenyum. Ia ingat sebuah ayat dari Kalamullah ,

” Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi [1]; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang [2]. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

[1]. Maksudnya: tidak dengan penuh keyakinan. [2]. Maksudnya: kembali kafir lagi.

Dalam sebuah nasihat kepada para sahabatnya, Rasulullah Saw. Bersabda,” Orang beriman yang kuat lebih baik dan lebih di sukai Allah daripada orang beriman yang lemah, Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu, janganlah mengucapkan , ” Seandainya aku berbuat begini tentu akan terjadi begini dan begitu”. Tapi katakanlah,” Apa yang di tentukan Allah dan Apa yang di kehendaki-Nya pasti akan terjadi.” Sebab, kata “seandainya”  itu akan memberi jalan pada setan untuk menguasai.” (HR. Bukhari)

Temannya itu bertanya ,” Apakah dahi yang menghitam karena beribadah pada Allah dapat menyelesaikan permasalahan hidup?” Sambil tertawa temannya itu menunnjuk dahi yang hitam. Ia hanya tersenyum. Ia sadar, segala ujian hidup yang datang bisa jadi tidak akan pernah selesai seperti apa yang di inginkan dan di harapkan. Tapi Allah Maha menyelesaikan dan Maha Barkehendak. Tidak pernah ia berburuk sangka terhadap apa yang telah Allah tetapkan kepadaNya. Allah pasti memilih yang terbaik, dan paling baik untuk hamba-hamba-Nya. Itulah penyelesaian dari segala permasalahan hidup.

Bagaimanapun nantinya, semua yang pernah menjadi milik Kita  sekarang didunia, pasti akan kembali hilang dan diambil kembali oleh pemiliknya yaitu Allah SWT. Tidak ada yang abadi didunia ini. Semua berdasarkan kehendak dari Allah, apapun yang Allah kehendaki pasti terjadi begitu saja tanpa ada persiapan apapun dari kita. Hanyalah Allah yang kekal dan abadi. Tiada lain yang bisa kekal dan abadi selain Allah SWT. Bumi ini, tempat kita hidup selama ini pun, suatu saat nanti pasti akan binasa dan hilang begitu saja.

Rasulullah Saw, bersabda,” Tidak ada sesuatupun yang lebih di cintai Allah dari pada dua” tetes” dan dua “bekas”, yaitu ‘ tetesan air mata kerinduan kapada Allah’ dan ‘tetesan darah yang mengalir karena berjuang di jalan Allah,. Adapun dua bekas yaitu ‘bekas luka ketika berjuang pada jalan Allah, dan ‘ bekas yang di sebabkan oleh ibadah kepada Allah Swt.” (HR. At-tirmidzi)

Do’a Anak Kecil

Standar

Suatu ketika Umar Bin Khattab  e.a. bertemu dengan anak kecil di sebuah jalan di tengah kota Madinah. Beliau menghampiri anak itu dan berkata dengan penuh kasih sayang, ” Nak, berdoalah pada Allah yang Maha Pengasih agar merahmati kita semua.”

Para sahabat heran dan berkata, ” Wahai amirul mu’minin, Bagaimana Anda meminta kepada seorang anak kecil  untuk berdoa pada Allah. Padahal Anda, adalah salah satu dari Sepuluh sahabat yang di jamin masuk syurga?.”

Umar menjawab .” Aku memintanya berdoa justru karena dia masih kecil, karena catatan Allah belum berlaku atasnya. Belum ada suatu dosapun yang pernah di lakukannya dan karena itu do’anya di kabulkan. Sedangkan kita telah menjadi dewasa, kita dalam kegelimangan dosa dan kesalahan. Catatan Allah telah berlaku atas kita.”

Sayyidina Ali bercerita:
Suatu hari Nabi kedatangan tamu.
“Wahai Rasul, saya telah bermaksiat kepada Allah. Sucikanlah saya.”
“Apa maksiatmu itu?” Tanya Nabi.
“Saya malu mengatakannya.”
“Kamu malu menceritakan dosamu kepadaku, tetapi tidak malu kepada Allah yang selalu melihatmu. Berdiri dan menyingkirlah dari sisiku sebelum api turun menimpa kami.”
Ia pergi dengan merana, putus asa dan menangis.

Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad. “Mengapa engkau putus asakan pelaku maksiat yang memiliki pelebur dosa sekalipun banyak dosanya?”
“Apa pelebur dosanya?” Tanya Nabi.
“Ia punya anak kecil. Setiap ia pulang anak kecil itu menyambutnya. Lantas laki-laki itu memberikan makanan atau sesuatu yang membuat gembira anak kecil tersebut. Apabila anak kecil itu bergembira maka itulah penebus dosanya.”
Nyatalah bahwa kegembiraan anak-anak adalah pelebur dosa dan menyelamatkan dari neraka. Sebagaimana firman Allah:
“Harta dan anak-anak kalian sesungguhnya adalah cobaan. Allah mempunyai pahala yang besar.” (Al Qur’an).

Rasulullah bersabda, ” Bagaimana pendapatmu wahai sahabatku, kalau sebuah sungai berada di depan pintu rumah salah satu dari kalian, dan ia mandi setiap hari lima kali. Apakah masih tertinggal kotoran di tubuhnya?’ Jawab para sahabat,” Tidak ya Rasulullah.” Rasulullah melanjutkan, ” Demikianlah shalat lima waktu. Allah menghapus dosa-dosa kalian dengan mengerjakannya.” (HR. Buhgari dan Muslim).

Kesucian diri dari dosa adalah salah satu kunci Allah mengabulkan doa-doa kita. Adalah lebih baik bagi seorang muslim membersihkan dirinya dari segala dosa sebelum memohon dan bermunajat kepada Allah.

Obatnya adalah Istighfar , ,

Standar

Suatu hari, Rasulullah Saw, duduk bersama beberapa sahabatnya. Lalu datanglah seorang laki-laki. Dia bertanya dan mengeluhkan kemiskinannya kepada Rasulullah , Lalu Rasulullah bersabda, ” Engkau harus beristighfar. ”

Kemudian datang seorang laki-laki lainnya bertanya dan mengeluhkan sedikitnya anak. Maka Rasulullah bersabda, ” Engkau harus beristighfar. ”

Lantas seorang sahabat, Abu Hurairah r.a. bertanya, ” Ya Rasulullah, penyakitnya bermacam-macam , tapi kenapa obatnya hanya satu?” Rasulullah bersabda, ” Aku akan bacakan kepada kalian apa yang telah di sampaikan oleh Nabi Nuh kepada umatnya.”

Maka aku katakan: mohon ampunlah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat dari langit untukmu. Dia akan memberimu banyak harta dan anak-anak dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan (mengadakan pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai yang mengalir (di dalamnya ). Mengapa kamu tidak meletakkan harapan kepada Allah.” ( QS. Nuh ayat 10-13 ).”

Rasulullah kemudian bersabda,” Barang siapa senantiasa membaca istighfar, maka Allah menjadikan baginya jalan keluar atas setiap kesulitan yang ia derita dan Allah memberi kelapangan atas setiap kesempitannya serta Allah memberi kepadanya rizki dari arah yang tidak di sangka-sangka.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud)

Dan di ceritakan dari sejarah ulama besar mengenai istighfar

Hasan al-Basri adalah ulama besar. Beliau tabiin (generasi sesudah sahabat) yang luas ilmunya. Bahkan Wasil bin Atha’, tokoh Mu’tazilah, mengaku dirinya murid Hasan. Suatu hari seseorang datang kepada beliau, mengeluhkan musim paceklik yang panjang dan penghasilannya menyusut. “Minta ampunlah (istighfar) kepada Allah agar masa paceklik itu segera berlalu,” kata Hasan memberi nasehat.

Datang lagi seseorang mengadukan keadaan dirinya kepada Hasan. “Guru, saya ingin punya keturunan. Doakanlah kepada Tuhan agar aku dikaruniai anak,” pintanya. Hasan menjawab: “Istighfarlah kepadaAllah agar kamu dikaruniai anak.”

Datang lagi orang ketiga pada Hasan. Orang ini mengeluh tentang tanamannya yang tidak kunjung berbuah. Hasan lalu berkata: “Mohon ampunlah kepada Allah agar tanamanmu cepat berbuah.” Para murid yang mendengar jawaban gurunya heran. Tiga pertanyaan berbeda dijawab dengan jawabanyang sama: Istighfar atau minta ampun. Tapi diperlukan keberanian bagi seorang murid menegur gurunya, apalagi guru sekelas Hasan al-Basri.

Salah seorang memberanikan diri. “Wahai guru kami. Ada tiga orang berbeda datang kepada guru dengan keluhan berbeda. Tetapi mengapa guru memberi jawaban yang sama atas tiga keluhan berbeda?” tanya murid itu. Hasan dengan senyum ramah mengatakan: “Jawabanku itu bukan atas kemauanku sendiri melainkan berdasarkan firman Allah.” Hasan lalu membacakan surat Nuh ayat 10-13 :

“Maka aku katakan: mohon ampunlah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat dari langit untukmu. Dia akan memberimu banyak harta dan anak-anak dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan (mengadakan pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai yang mengalir (di dalamnya ). Mengapa kamu tidak meletakkan harapan kepada Allah.” ( QS. Nuh ayat 10-13 ).”

Cara ulama besar Hasan al-Basri menjawab keluhan umatnya sungguh menarik. Ia memfokuskan pada satu kata kunci yaitu istighfar. Al-Qurtubi dan Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini merupakan bukti bahwa beristighfar dan bertaubat akan menambah rezeki dan keturunan serta hujan turun membasahi bumi yang gersang. Hamka dalam tafsir Al-Azhar memberi komentar tentang ayat ini bahwa ampunan Tuhan adalah cahaya hidup. Jika Tuhan memberi ampunan, segala pekerjaan menjadi mudah, dada pun lapang dan hidup terang benderang.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda sebagai berikut,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ فَإِنِّى أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

Wahai manusia seluruhnya bertaubat dan mohon ampunlah kepada Allah. karena sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari” (HR Ahmad no 18319. Syaikh Al Arnauth berkata tentang hadits ini: sanadnya shahih sesuai syarat Muslim).

 

Jawaban Orang Kaya dan Orang banyak menderita di Akhirat

Standar

Dari sahabat RasuluulahAnas r.a., Rasulullah bersabda, ” Pada hari Kiamat nanti di hadirkan orang yang paling senang dan paling berkecukupan ketika di dunia. Ia termasuk calon penghuni neraka. Kemudian ia di masukan sebentar ( di celupkan) dalam neraka dan di tanya,” Wahai anak adam, Apakah kamu pernah merasakan kesenangan dan kenikmatan?’ ia menjawab,” Demi Engkau, tidak ada wahai tuhanku,. Lalu di datangkan orang yang ketika hidupnya di dunia banyak menderita dan di penuhi dengan berbagai kesempitan. Ia termasuk calon penghuni syurga. Ia di masukan sebentar ke dalam syurga, lalu di tanya, ” Wahai hamba-Ku apakah engkau pernah merasakan kesedihan dan penderitaan?’ Jawabnya, Demi Engkau ya Tuhanku, aku tidak pernah merasakan penderitaan sedikitpun dan tidak pernah pula aku merasa bersedih.’ ( HR. Muslim )

kenikmatan akhirat itu lebih besar dan kekal. Adapun kenikmatan dunia itu rendah dan begitu sebentar. Demikian pula derita akhirat dan derita dunia.

Ini semua kembalinya kepada keimanan dan keyakinan. Apabila keimanan menancap kuat, qalbu akan memilih kenikmatan yang lebih tinggi dari pada yang lebih rendah. Dia sabar menanggung derita yang lebih ringan (derita dunia) untuk menghindari derita yang lebih besar (derita Akhirat).

Kenikmatan ini secara asal tidaklah tercela. Namun, kenikmatan menjadi tercela apabila ia menyebabkan hilangnya kenikmatan yang lebih besar dan lebih sempurna. Atau, ketika mendapatkannya mengakibatkan derita yang lebih besar dari pada derita ketika tidak mendapatkannya.

Di sinilah akan tampak perbedaan antara orang yang berakal cerdas dan orang yang bodoh. Ketika orang yang cerdas mengetahui perbedaan antara dua kenikmatan ini, ia paham betul bahwa keduanya ini tidak bisa dibandingkan. Ia akan sangat ringan untuk meninggalkan kenikmatan yang lebih rendah untuk mendapatkan kenikmatan yang paling mulia. Ia juga akan rela menanggung derita yang lebih ringan untuk menghindari derita yang sangat berat.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, perhiasan dan hanya bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, deperti hujan yang tanaman-tanamanyamengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menguningkemudian menjadi hancur.Dan di akhirat nanti ada azab yang keras san dan ampunan dari Allah serta keridlhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu ( Q.S. AL-HADID : 20)

Agar Allah Menjagamu

Standar

Dalam sebuah perjalanan Rasulullah SAW,  membonceng sepupunya Abdullah bin Abbas yang masih kecil itu.  ia pernah di panggil Rasulullah,  Rasulullah saw memulai dialog dengan perkataan lembut, ” Nak, aku ingin sekali mengajarkan kepadamu beberapa hal yang akan menjadi bekal engkau sampai ajal datang menghampiri.

عن أبي العباس عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال : ” كنت خلف النبي صلى الله له عليه وسلم يوما ، فقال : ( يا غلام ، إني أُعلمك كلمات : احفظ الله يحفظك ، احفظ الله تجده تجاهك ، إذا سأَلت فاسأَل الله ، وإذا استعنت فاستعن بالله ، واعلم أن الأُمة لو اجتمعت على أَن ينفعـوك بشيء ، لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ، وإن اجتمعوا على أن يضروك بشيء ، لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحف ) . رواه الترمذي وقال :” حديث حسن صحيح “.

وفي رواية الإمام أحمد : ( احفظ الله تجده أَمامك ، تعرف إلى الله في الرخاء يعرفك فـي الشدة ، واعلم أَن ما أَخطأَك لم يكن ليصيبك ، وما أَصابك لم يكن ليخطئك ، واعلم أَن النصر مع الصبر ، وأن الفرج مع الكرب ، وأن مع العسرِ يسرا ) .

Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Suatu saat saya berada dibelakang nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah*, niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.

dan didalam riwayat imam Ahmad: Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya didepanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yang ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan dan kesulitan bersama kemudahan

* Maksudnya adalah bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan perintahnya dan menjauhkan larangannya.

Lalu bertanyalah Abdullah kecil kepada Rasulullah , ya Rasulullah bagaimanakah caranya aku menjaga Allah swt padahal Dia-lah Rabb(pencipta, pemilik dan pemelihara) kita ?. Lalu Rasulullah saw menjawab, wahai Abdullah bukankah Allah swt telah menetapkan suatu aturan yang Dia perintahkan kita untuk melakukannya, juga telah menetapkan larangan agar kita tidak melampaunya ? Maka ketika engkau berusaha menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya maka engkau telah menjaga aturan atau hukum-hukum-Nya yang dengan itu maka Allah swt akan memberikan penjagaan kepadamu.

Kenapa demikian ? Karena pada hakikatnya semua yang Allah swt perintahkan kepada kita adalah semata-mata untuk kebaikan diri kita sendiri walaupun kita belum dapat merasakannya saat itu juga, dan sebaliknya sesuatu yang Allah swt larang kepada kita untuk melakukannya maka sesungguhnya karena sesuatu itu akan membahayakan diri kita sendiri walaupun saat itu kita belum dapat merasakan bahayanya.

Mengertilah Abdullah bin Abbas apa yang dimaksudkan oleh gurunya : Rasulullah saw. Sebaik-baiknya murobbi (pembina)

Semoga Allah swt senantiasa memberikan kemudahan kepada kita semua untuk mengikuti Rasulullah saw , penutup para Nabi dan Rasul ,teladan umat sampai akhir zaman..

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab :21)

Rasulullah Saw. mengajarkan doa yang selalu di bacanya setiap selesai shalat fardhu, ‘ Tiada tuhan selain Engkau ya Allah, tiada sekutu bagi Engkau. Ya Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau halangi, tigak berguna daya dan upaya yang sungguh-sungguh. Semua bergantung kepada Rngkau semata. (H.R Bukhari)

Akhlak Pengemban Al-Qur’an

Standar

Rasulullah bersabda ; ” Kebanyakan orang munafik dari umatku adalah Qurro’ ( Para pembaca Al-Qur’an ).” (HR. Thabrani dan Ahmad)

Hadits di atas membutuhkan tafakur, merenung untuk mengetahui kenapa para pembaca Alqur’an justru rawan dengan jerat-jerat kemunafikan.

Sebagaimana yang kita lihat, Banyak orang membaca Al-Qur’an hanya keluar udara dari pita suaranya, mereka membaca sebatas mulut, tak sampai di hati. Banyak orang yang membaca baik dalam shalat ataupun dalam keadaan yang lain dengan tersedu-sedu, namun dalam hatinya hanya ada rasa ingin di perhatikan, di puji orang yang mendengarkannya, akibatnya khusuk tinggal angan-angan saja.

Suatu hari Muhammad syauman Ar-Ramli pernah shalat di belakang salah seorang dari mereka. Ia meratap sepanjang shalat. Beberapa orang yang shalat di belakangnya juga menangis, berdo’a, meratap sepanjang ayat-ayat Al-Qur’an di lantunkan, Bahkan sampai ada yang mengeluarkan saputangan untuk mengusap wajah.

Muhammad syauman Ar-Ramli  menyempatkan bertanya kepada tetangga imam yang terkenal dengan tangisannya itu,

Bagaimana keadaannya di luar shalat? , ,

Ia menjawab ” Sungguh memalukan! Orangnya tidak berhenti dari canda dan tawa!.”

Sungguh sangat jauh dari kebenaran yang kita saksikan di luar, ada baiknya kita melihat orang-orang terdahulu, Bagaimana seorang pengemban Al-Qur’an dalam mentadabburi, menghayati ayat-ayat Allah SWT, dengan perilaku yang benar.

Alangkah indahnya petuah sahabat mulia Seorang Qori’ Abdullah bin Mas’ud ra,

Seorang pengemban Alqur’an sepantasnya di ketahui malam hari saat orang-orang sedang tidur, di ketahui siang hari saat orang-orang tidak berpuasa, di ketahui kesedihannya ketika orang-orang bergembira, di ketagui diamnya saat orang-orang banyak bergaul, dan khusuknya saat orang-orang sibuk. Seorang pengemban Al-Quran Sepantasnya menjadi banyak menangis, bersedih, santun, bijaksana, alim dan banyak diam. Seorang pengemban Al-Qur’an  seyogianya tidak kasar, tidak lalai, tidak suka berteriak, tidak suka bersuara keras, dan tudak berlidah tajam”.

Abu Hazim Al-Khaqani menyatakan bahwa Abu Bakar Al-Hasan bin Abdul Wahab Al-Waraq pernah berkata ” Aku tidak pernah melihat ayahku tertawa sama sekali beliau hanya tersenyum.

Pembaca yang di rahmati oleh Allah,, insya Allah,,,

Sungguh mempelajari Al-Qur’an sangatlah banyak faidahnya, untuk diri kita dan yang lain, di hari nanti ( akhirat ) mauoun di kehidupan kita sekarang, namun kalau pembaca mempunyai hati yang tulus niatkan semua bukan karena faidahnya namun hanya untuk mencari keridhoan Allah pada diri kita ini.

Ya Allah, Bukakanlah keluasan ilmu pada kami , ,