Category Archives: Pengemban Al-Qur’an banyak diam

Akhlak Pengemban Al-Qur’an

Standar

Rasulullah bersabda ; ” Kebanyakan orang munafik dari umatku adalah Qurro’ ( Para pembaca Al-Qur’an ).” (HR. Thabrani dan Ahmad)

Hadits di atas membutuhkan tafakur, merenung untuk mengetahui kenapa para pembaca Alqur’an justru rawan dengan jerat-jerat kemunafikan.

Sebagaimana yang kita lihat, Banyak orang membaca Al-Qur’an hanya keluar udara dari pita suaranya, mereka membaca sebatas mulut, tak sampai di hati. Banyak orang yang membaca baik dalam shalat ataupun dalam keadaan yang lain dengan tersedu-sedu, namun dalam hatinya hanya ada rasa ingin di perhatikan, di puji orang yang mendengarkannya, akibatnya khusuk tinggal angan-angan saja.

Suatu hari Muhammad syauman Ar-Ramli pernah shalat di belakang salah seorang dari mereka. Ia meratap sepanjang shalat. Beberapa orang yang shalat di belakangnya juga menangis, berdo’a, meratap sepanjang ayat-ayat Al-Qur’an di lantunkan, Bahkan sampai ada yang mengeluarkan saputangan untuk mengusap wajah.

Muhammad syauman Ar-Ramli  menyempatkan bertanya kepada tetangga imam yang terkenal dengan tangisannya itu,

Bagaimana keadaannya di luar shalat? , ,

Ia menjawab ” Sungguh memalukan! Orangnya tidak berhenti dari canda dan tawa!.”

Sungguh sangat jauh dari kebenaran yang kita saksikan di luar, ada baiknya kita melihat orang-orang terdahulu, Bagaimana seorang pengemban Al-Qur’an dalam mentadabburi, menghayati ayat-ayat Allah SWT, dengan perilaku yang benar.

Alangkah indahnya petuah sahabat mulia Seorang Qori’ Abdullah bin Mas’ud ra,

Seorang pengemban Alqur’an sepantasnya di ketahui malam hari saat orang-orang sedang tidur, di ketahui siang hari saat orang-orang tidak berpuasa, di ketahui kesedihannya ketika orang-orang bergembira, di ketagui diamnya saat orang-orang banyak bergaul, dan khusuknya saat orang-orang sibuk. Seorang pengemban Al-Quran Sepantasnya menjadi banyak menangis, bersedih, santun, bijaksana, alim dan banyak diam. Seorang pengemban Al-Qur’an  seyogianya tidak kasar, tidak lalai, tidak suka berteriak, tidak suka bersuara keras, dan tudak berlidah tajam”.

Abu Hazim Al-Khaqani menyatakan bahwa Abu Bakar Al-Hasan bin Abdul Wahab Al-Waraq pernah berkata ” Aku tidak pernah melihat ayahku tertawa sama sekali beliau hanya tersenyum.

Pembaca yang di rahmati oleh Allah,, insya Allah,,,

Sungguh mempelajari Al-Qur’an sangatlah banyak faidahnya, untuk diri kita dan yang lain, di hari nanti ( akhirat ) mauoun di kehidupan kita sekarang, namun kalau pembaca mempunyai hati yang tulus niatkan semua bukan karena faidahnya namun hanya untuk mencari keridhoan Allah pada diri kita ini.

Ya Allah, Bukakanlah keluasan ilmu pada kami , ,