Monthly Archives: Desember 2012

Yahudi menamakan diri israel

Standar

Tidak  diragukan bahkan seolah telah menjadi kesepakatan dunia termasuk kaum muslimin bahwa negeri yahudi terlaknat yang menjajah Palestina bernama Israel. Bahkan mereka yang mengaku sangat membenci yahudi -sampai melakukan boikot produk-produk yang diduga menyumbangkan dana bagi yahudi- turut menamakan yahudi dengan israel. Akan tetapi sangat disayangkan tidak ada seorang pun yang mengingatkan bahaya besar penamaan ini.

Perlu diketahui dan dicamkan dalam benak hati setiap muslim bahwa ISRAIL adalah nama lain dari seorang Nabi yang mulia, keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yaitu Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Allah ta’ala berfirman:

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ

“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan.” (QS. Ali Imran: 93)

Israil yang pada ayat di atas adalah nama lain dari Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Dan nama ini diakui sendiri oleh orang-orang yahudi, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu“Sekelompok orang yahudi mendatangi Nabi untuk menanyakan empat hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi. Pada salah satu jawabannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Apakah kalian mengakui bahwa Israil adalah Ya’qub?” Mereka menjawab: “Ya, betul.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, saksikanlah.” (HR. Daud At-Thayalisy 2846)

Kata “Israil” merupakan susunan dua kata israa dan iil yang dalam bahasa arab artinya shafwatullah (kekasih Allah). Ada juga yang mengatakan israa dalam bahasa arab artinya ‘abdun (hamba), sedangkan iil artinya Allah, sehingga Israil dalam bahasa arab artinya ‘Abdullah (hamba Allah). (lihat Tafsir At Thabari dan Al Kasyaf ketika menjelaskan tafsir surat Al Baqarah ayat 40)

Telah diketahui bersama bahwa Nabi Ya’qub adalah seorang nabi yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah ta’ala. Allah banyak memujinya di berbagai ayat al Qur’an. Jika kita mengetahui hal ini, maka dengan alasan apa nama Israil yang mulia disematkan kepada orang-orang yahudi terlaknat. Terlebih lagi ketika umat islam menggunakan nama ini dalam konteks kalimat yang negatif, diucapkan dengan disertai perasaan kebencian yang memuncak; Biadab Israil… Israil bangsat… Keparat Israil… Atau dimuat di majalah-majalah dan media massa yang dinisbahkan pada islam, bahkan dijadikan sebagai Head Line News; Israil membantai kaum muslimin… Agresi militer Israil ke Palestina… Israil penjajah dunia…. Dan seterusnya… namun sekali lagi, yang sangat fatal adalah ketika hal ini diucapkan tidak ada pengingkaran atau bahkan tidak merasa bersalah.

Satu hal yang perlu disadari oleh setiap muslim, penamaan negeri yahudi dengan Israil termasuk salah satu di antara sekian banyak konspirasi (makar) yahudi terhadap dunia. Mereka tutupi kehinaan nama asli mereka YAHUDI dengan nama Bapak mereka yang mulia Nabi Israil ‘alaihis salam. Karena bisa jadi mereka sadar bahwa nama YAHUDI telah disepakati jeleknya oleh seluruh dunia, mengingat Allah telah mencela nama ini dalam banyak ayat di Al-Qur’an.

Kita tidak mengingkari bahwa orang-orang yahudi merupakan keturunan Nabi Israil ‘alaihis salam, akan tetapi ini bukan berarti diperbolehkan menamakan yahudi dengan nama yang mulia ini. Bahkan yang berhak menyandang nama dan warisan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan para nabi yang lainnya adalah kaum muslimin dan bukan yahudi yang kafir. Allah ta’ala berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Mungkin perlu kita renungkan, pernahkah orang yang mengucapkan kalimat-kalimat isroil telah menghina Nabi Ya’qub ‘alaihis salam? pernahkah orang-orang yang menulis kalimat ini di majalah-majalah yang berlabel islam dan mengajak kaum muslimin untuk mengobarkan jihad, merasa bahwa dirinya telah membuat tuduhan dusta kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis salam? mengapa mereka tidak membayangkan bahwasanya bisa jadi ungkapan-ungkapan salah kaprah ini akan mendatangkan murka Allah – wal ‘iyaadzu billaah – karena isinya adalah pelecehan dan tuduhan bohong kepada Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Mengapa tidak disadari bahwa Nabi Ya’qub ‘alaihis salam tidak ikut serta dalam perbuatan orang-orang yahudi dan bahkan beliau berlepas diri dari perbuatan mereka yang keparat.

Lalu dengan apa kita menamai mereka?! Kita menamai mereka sebagaimana nama yang Allah berikan dalam Al-Qur’an, YAHUDI dan bukan ISRAEL. Dan sebagaimana disampaikan di atas, hendaknya setiap muslim membiasakan diri dalam menamakan sesuatu sesuai dengan yang Allah berikan. Hendaknya kita namakan orang-orang yang mengaku pengikut Nabi Isa ‘alahis salam dengan NASRANI bukan KRISTIANI, kita namakan hari MINGGU dengan AHAD bukan MINGGU, kita namakan shalat dengan SHALAT bukan SEMBAHYANG dan seterusnya selama itu bisa dipahami oleh orang yang diajak bicara, sebagai bentuk penghormatan kita terhadap syi’ar-syi’ar agama islam. Wallaahu waliyyut taufiiq…

***

Dari artikel ‘Yahudi Bukan Israel — Muslim.Or.Id

Iklan

Sedekahnya Para Nabi, Sedekah Luar Biasa

Standar

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling dermawan. tak pernah sekalipun beliau menolak apabila di mintai pertolongan baik harta maupun tenaga. Jabir bin ‘Abdillah bersaksi,” Tak pernah sekalipun Rasulullah di minta sesuatu kemudian beliau berkata “tidak” (H.R Muslim)

Di kisahkan suatu hari Nabi Muhammad SAW kehabisan harta dan sembako sampai menjaminkan dirinya untuk sebuah hutang orang badui yang sering meminta-minta pada rasulullah.

Lalu Umar r.a berkata pada Rasulullah,” Ya Rasulullah, janganlah memberi di batas kemampuanmu”.

Pada waktu itu Rasulullah terlihat sedang masghul (sibuk) untuk mendengarkan perkataan yang di ucapkan oleh Umar r.a, Tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar berkata,” Ya Rasulullah, jangan takut  teruslah bersedekah, jangan khawatir dengan kemiskinan.” 

Mendengar ucapan laki-laki tadi Rasulullah tersenyum lalu beliau berkata, “Ucapan itulah yang di perintahkan oleh Allah kepadaku,“( H.R Turmudzi).

Di Zaman Nabi Sulaiman a.s, sepasang merpati mengadu padanya bahwa telurnya selalu di ganggu seorang manusia. Karena Nabi sulaiman memiliki mukjizat berbicara dengan binatang di samping itu juga memiliki bala tentara dari kalangan jin, hewan dan mempunyai kendaraan berupa angin. Maka Nabi sulaiman menyuruh jin menjaga keselamatan telur merpati itu.

Namun suatu hari, merpati datang dan mengadukan pada Nabi Sulaiman, karena jin telah gagal melaksanakannya. Ketika itu Nabi sulaiman memanggil jin dan bertanya tentang tugas yang di berikan padanya, namun jin meminta ma’af karena gagal mengusir ” Ma’af, kami gagal mengusir orang yang mengganggu telur merpati karena ia di kawal oleh dua malaikat.”

Malaikat kemudian memberitahu pada Nabi Sulaiman bahwa pria itu, sebelum pergi ke sarang burung merpati telah bersedekah dengan sekeping roti kering kepada seorang pengemis.

Nabi Isa juga mengajarkan umatnya untuk bersedekah, banyak yang sudah merasakan manfaatnya. Malaikat Jibril a.s mengabarkan kepada Nabi Isa a.s tentang jadwal kematian tukang cuci yang segera tiba. Ketika Nabiyullah pergi ke tempat tukang cuci tadi untuk bertakziah, terkejutlah beliau. ternyata tukan cuci tersebut masih hidup. Dia sedang mencuci seperti biasanya

Jibril turun memberitahukan kepada Nabi isya a.s” Lantaran dia telah bersedekah dengan 3 (tiga) potong roti, maka ALLAH SWT menghindarkannya dari wasilah kematiannya. Sebenarnya, di dalam tumpukan pakaian yang di bawa ada seekor ular hitam atau black mamba yang akan mematuknya hingga tewas.”

Sebagai orang yang beriman dan percaya pada Allah, kita yakin sedekah tidak dapat menjadikan seseorang jatuh dalam miskin. sebaliknya Allah akan menggantikan berlipat-lipat, tidak di ragukan lagi di dunia sudah nyata, apalagi di akhirat nanti, semoga Allah menggolongkan kita orang-orang yang suka berderma.

Apa yang Kita dengarkan di Pertanggungjawabkan

Standar

Dalam menjalani Kehidupan tentunya sebagai manusia saling berhubungan, tidaklah salah manusia itu saling berkomunikasi, bertukar pengalaman, namun ketika seseorang sudah melampaui batas seperti membicarakan kejelekan-kejelekan orang lain, ataupun kekurangan-kekurangan orang lain, merupakan  kesempatan besar  bagi setan dalam mencari teman untuk di hari nanti. bukankah kalian tahu orang yang membicarakan selain Kebesaran Allah, KenikmatanNya,  lama kelamaan dalam perbincangan tersebut sedikit banyaknya akan terjerumus dalam ghibah, menggunjing, mereka berdalih sebagai pengetahuan saja, sebagai cerita yang harus di ambil pelajarannya, dan masih banyak alasan dalam melakukannya. Sekiranya Rasulullah masih ada di samping kita, mungkin beliau bertanya “daging bangkai siapa yang sudah engkau makan?,,,  karena Rasulullah pernah bersabda bahwa orang yang ghibah(ngrasani: B.Jawa) di ibaratkan orang yang sedang memakan daging bangkai (mayit) orang yang di omongkan. Sudikah kalian untuk itu. .? Tidaklah heran ketika seseorang yang sedang membicarakan orang lain sangat enak, nyaman, asyik, , , karena mereka sedang makan daging bangkai. Belum lagi adzab yang akan di terima baik di dunia yaitu rizki di sempitkan, urusan tak kunjung selesai belum lagi di akhirat kelak.

Pada suatu hari Ibnu Abu Zakariya, jika sahabat-sahabatnya berbicara, atau berbincang-bincang panjang lebar tentang sesuatu selain mengingat Allah. dia bersikap seperti domba yang tidak peduli. Namun apabila berbicara tentang mengingat Allah, dia yang sangat sungguh-sungguh mendengarnya. Rasulullah bersabda : “Kedua telinga itu juga bisa berzina yaitu dengan menguping (mendengarkan rahasia Orang lain)”. Oleh sebab itu beliau memberi petunjuk kepada umatnya untuk selalu berlindung dari kejahatan pendengaran. Beliau memerintahkan membaca : “YA ALLAH aku berlindung dari kejahatan diri ini.” Jangan anggap remeh perasaan atau suara hati, walau sedikit.

Pendengaran adalah jalan menuju hati. Allah menguji orang -orang yang beriman dengan firmanNya “Apabila mendengarkan perkataan yang tidak bermanfaat (sia-sia), mereka berkata; Bagi kami amal kami, bagi kalian amal kalian.’ Kesejahteraan atas diri kalian. Kami tidak mau bergaul dengan orang-orang yang jahil”.(Q.S. Al-Qashas). Orang yang benar-benar Allahlah sebagai tujuan hidupnya tidak akan mendengarkan setiap ucapan yang sia-sia, dan tidak membiarkan pendengarannya mendengarkan segala sesuatu yang di larang oleh Allah. Karena pendengaran akan di pertanggung jawabkan, dan di tanya oleh Allah SWT. di akhirat kelak. Allah berfirman; ” Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati akan di minta pertanggungjawaban.” (Al-Isro ; 36)